Tampilkan postingan dengan label Bugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bugis. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2017

Perlunya Melestarikan dan Menyempurnakan Bahasa Bugis dan Aksara Lontara'

Buku yang menggunakan aksara Lontara

Adanya Akasara Lontara' yang diwariskan untuk kita oleh para pendahulu merupakan salah satu hal yang wajib disyukuri oleh Bangsa Indonesia pada umumnya dan suku Bugis pada khususnya. Dengan aksara inilah para leluhur menulis karya sastra terpanjang di dunia yaitu Lontara' I Lagaligo yang sekarang tersimpan dengan baik di negeri Belanda.

Tidak ada manusia yang hidup abadi. Salah satu cara untuk melestarikan pemikiran adalah dengan mewariskan pemikiran tersebut melalui tulisan agar para penerus dapat mengambil manfaat darinya. Tentu saja, para penerus haruslah terlebih dahulu menguasai bahasa dan aksara yang digunakan oleh para leluhurnya sebelum mempelajari manuskrip-manuskrip yang diwariskan untuknya. Oleh karena itu, sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita semua untuk mempelajari bahasa Bugis dan aksara Lontara'nya.

Sekarang ini bahasa Bugis sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan di Negara Indonesia yang tercinta. Hal ini merupakan suatu hal yang alamiah dan telah terjadi pada banyak bahasa di dunia. Sekarang masyarakat Bugis di daerah Bone, ketika mengucapkan kata menonton dalam bahasa Bugis, mereka menggunakan kata manontong. Kata tersebut merupakan kata serapan dari bahasa Indonesia yaitu menonton. Sebenarnya hal ini dapat dimaafkan jika memang dalam bahasa Bugis tidak terdapat terjemahan dari kata menonton, tapi ternyata ada, hanya kita yang malas menggunakannya. Orang-orang dulu menggunakan kata makkîtaîta untuk kata menonton, tapi sekarang kata tersebut tidak pernah terdengar terucapkan oleh orang-orang yang sedang berkomunikasi dalam bahasa Bugis di daerah kelahiran saya, Kota Beradat Watampone.

Bahasa Bugis itu unik. Salah satu keunikannya adalah suatu kata dapat saja memiliki dua arti yang saling bertolak belakang, misalnya kata bâli. Bâli dalam bahasa Bugis memiliki banyak arti yang tergantung dari susunan kata dalam kalimat yang sedang diucapkan. Bali dapat berarti pasangan tapi dapat juga berarti lawan atau musuh. 

Jika ada orang berkata, "Îga muéra sibâli ri wettummu mabbulutangkisi'?" (Siapa yang kamu ajak untuk berpasangan sewaktu bermain bulu tangkis?). Maka arti dari kata bâli dalam kalimat ini adalah pasangan dalam permainan bulu tangkis ganda.

Tapi jika dikatakan, "Îga mancâji balimmu ri wettummu mabbulutangkisi'?" (Siapa yang menjadi lawanmu sewaktu bermain bulu tangkis?). Maka yang dimaksud bâli dalam kalimat tersebut adalah lawan dalam pertandingan bulu tangkis. 

Terdapat kerabat dari kata bâli yang dapat diterjemahkan menjadi bantu atau teman yaitu baling. Jika ada yang berkata, "Balingngi ambo’mu maddâre'!" (Bantulah/Temanilah ayahmu berkebun!). Maka arti dari kata baling dalam kalimat tadi adalah bantulah atau temanilah. Saat ini, penggunaan kata baling sudah sering digantikan oleh kata bantu yang diserap dari bahasa Indonesia.

Jika tidak ada daya upaya dalam melestarikan bahasa Bugis maka suatu saat semua kata dalam bahasa Bugis akan tergantikan oleh katakata serapan dari bahasa Indonesia. Salah satu cara untuk melestarikan bahasa Bugis adalah dengan membuat kamus bahasa Bugis sehingga kata yang sudah jarang digunakan dalam berkomunikasi dapat terselamatkan. Akan tetapi cara ini tidak sepenuhnya memberikan solusi terhadap semua masalah yang dihadapi.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh bahasa Bugis sebagai bahasa daerah yang paling banyak penuturnya di Sulawesi Selatan adalah kurangnya minat generasi mudah untuk mempelajari dan mengkaji bahasa Bugis walaupun bahasa Bugis menjadi bahasa ibu mereka. Hal ini dikarenakan oleh adanya kesan bahwa bahasa Bugis hanya sekadar sebagai bahasa untuk berkomunikasi dengan orang-orang pedalaman Bugis yang belum terlalu memahami bahasa Indonesia sehingga bahasa ini tidak terlalu dibutuhkan. 

Mereka tidak melihat bahasa Bugis sebagai sebuah pusaka, kehormatan, identitas, filosofi, dan seni bagi masyarakat Bugis. Untuk mengatasi masalah ini maka banyak hal yang dapat dilakukan. Antara lain menulis buku-buku yang menjelaskan tentang arti sesungguhnya bahasa Bugis bagi masyarakat Bugis sejak zaman dahulu hingga sekarang, menerjemahkan kisah I Lagaligo dalam bentuk buku sehingga semua orang dapat mengetahui bahwa kisah I Lagaligo lebih baik dari kisah Mahabharata dari India yang sekarang ini selalu ditayangkan di televisi, menulis karya sastra yang berbahasa Bugis sehingga kesusastraan Bugis terus berlanjut, dan lain-lain.

Kita kembali dalam masalah aksara Lontara' yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Huruf Lontara' bersifat silabis, yaitu setiap huruf selalu diikuti oleh huruf vokal. Jadi jika kita akan menulis kata Bambang dalam huruf Lontara', maka hanya membutuhkan dua huruf yaitu huruf Ba dua kali karena huruf tersebut telah menyatu dengan huruf vokal. 

Sifat silabis ini erat kaitannya dengan bahasa Bugis yang tidak memiliki huruf mati kecuali huruf /Ng/ misalnya ladang, sadang, bubung, madang dan lain-lain. Selain itu, dalam bahasa Bugis terdapat banyak sekali kata yang memiliki glottal stop, yaitu sebuah penekanan yang biasanya terdapat di akhir kata yang pengucapannya mirip dengan cara baca huruf Hamzah sukun (mati) dalam huruf Hijaiyyah. Misalnya labbu' (tepung), sâbu' (sabuk), lîpa' (sarung), pajjâguru' (tinju), dan lain-lain. 

Jika terdapat kata atau nama yang berasal dari bahasa asing maka kata tersebut akan dimodivikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sistem bunyi bahasa Bugis. Contoh Muhamma' (Muhammad), pistôlu (pistol), Akurang (Al-Qur’an), gése' (gas), Ingjili' (Injil), dan lain-lain.

Perubahan bunyi yang terjadi pada huruf-huruf ketika terjadi pengadopsian terhadap kata yang berasal dari bahasa asing merupakan hal yang sudah umum dalam bahasa-bahasa di dunia. Bahkan, Allah SWT melakukan hal yang sama dalam Al-Qur'an. Misalnya, nama Nabi Esau yang berasal dari bahasa Ibrani berubah menjadi Isa dalam Al-Qur'an. 

Sebagian besar nama-nama yang tercantum dalam Al-Qur'an merupakan nama-nama yang berasal dari orang-orang yang tidak berbahasa Arab. Dalam kitab suci Al-Qur'an, kita akan menemukan nama-nama yang berasal dari kaum Yahudi seperti Daud (David), Sulaiman (Salomo), Ilyas (Elia), Ilyasa' (Eliza), dan lain-lain. Sebagai seorang muslim, saya menganggap bahwa hal seperti ini tidak apa-apa karena Allah saja melakukannya di dalam Al-Qur'an.

Masalah akan muncul dalam tulisan Lontara' ketika kita mempertanyakan pelafalan asli dari sebuah kata yang berasal dari bahasa asing. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan dengan menggunakan aksara Lontara' yang ada saat ini.

Mari kita sejenak berimajinasi, anggaplah kita hidup dalam sebuah negara yang menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa nasionalnya dan aksara Lontara' sebagai aksara resmi negara. 

Anggaplah anda adalah seorang mahasiswa jurusan Sejarah dalam sebuah Universitas ternama di negara tersebut. Bahasa Bugis dan aksara Lontara' digunakan dalam proses belajar mengajar di kampus. Kemudian, anda membaca sebuah buku di perpustakaan yang membahas tentang perjalanan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghiz Khan untuk menguasai dunia. 

Dalam buku tersebut nama dari Jenghiz Khan adalah Jenghise' Kang karena disesuaikan dengan tata bunyi dalam bahasa Bugis. Apakah anda tidak penasaran bagaimana orang Mongol menyebut nama pemimpin (Jenghiz Khan) mereka saat itu? 

Apakah mereka menyebut namanya dengan Jenghise' Kang? Tentu saja tidak. Terus, bagaimana cara menjelaskan penyebutan asli nama tersebut dalam masyarakat Mongol dalam sebuah buku yang berbahasa Bugis dan ditulis dengan menggunakan aksara Lontara'? 

Kita harus membuat huruf-huruf tambahan untuk mengatasi masalah ini tanpa menghilangkan satu huruf pun dari huruf-huruf yang telah ada. Kalau kita tidak melakukan hal ini maka kita akan kesulitan membuat kamus bahasa Inggris-Bugis yang disertai dengan cara melafalkan bahasa Inggris dalam buku yang menggunakan huruf Lontara'.

Saya pernah mengalami sebuah masalah saat memulai penulisan buku yang menceritakan silsilah dan sejarah masyarakat Mico. Awalnya, saya ingin menulis buku ini menggunakan bahasa Bugis dan aksara Lontara' supaya bisa juga dibaca oleh orang-orang tua yang hanya mahir membaca aksara Lontara'. Namun, niat baik saya dihalangi oleh kekurangan aksara Lontara'. 

Dalam aksara Lontara’, penulisan kata bôdé' (sebuah nama) sama dengan penulisan kata bondéng (juga sebuah nama). Hal ini akan mengganggu pembaca buku saya yang membahas tentang silsilah yang banyak memuat nama-nama yang tidak lagi digunakan saat ini. Mereka akan kesulitan membaca sebuah kata yang dapat dibaca dengan beberapa cara. Akhirnya, saya memutuskan menulis buku itu dengan menggunakan aksara Latin. Sejak saat itu, saya menyadari betapa pentingnya menyempurnakan aksara Lontara'.

Banyak orang menentang tindakan penyempurnaan aksara Lontara' karena menghawatirkan hilangnya kemurnian dari aksara Lontara' itu sendiri. Mereka juga khawatir generasi muda tidak akan dapat lagi membaca manuskrip-manuskrip dari para pendahulu karena huruf Lontara' yang mereka pelajari tidak sama dengan huruf Lontara' yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip.

Hal ini hanya akan terjadi jika: 
  • Kita mengganti sebagian atau keseluruhan dari huruf-huruf Lontara' dengan huruf baru.
  • Kita mengubah secara keseluruhan aksara Lontara' yang bersifat silabis menjadi aksara Lontara’ yang bersifat fonetis.

Akan tetapi, kekhawatiran di atas tidak akan terjadi jika:
  • Tetap menggunakan kaidah pembacaan huruf-huruf Lontara' sebagaimana yang diwariskan, yaitu bersifat silabis.
  • Setiap bahasa asing yang diserap selalu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tata bunyi dalam bahasa Bugis.
  • Huruf-huruf dan kaidah-kaidah tambahan hanya digunakan dalam situasi tertentu misalnya dalam menulis nama orang, kota, pengucapan suatu kata dalam kamus, dan lain-lain.
  • Menulis ulang semua manuskrip sejarah dengan penulisan yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah baru dalam tulisan.

Saat ini terdapat usaha sebagian para ahli untuk menambahkan sistem penulisan angka dalam aksara Lontara'. Mereka beralasan bahwa aksara Lontara' belum memiliki angka sehingga hal ini perlu dilakukan. Angka Arab yang sering digunakan dalam teks-teks Lontara' sangat berbeda dengan huruf-huruf Lontara' secara geometris sehingga hal ini mengganggu pikiran dan perasaan mereka. 

Bukankah aksara-aksara di Cina, Korea, dan Jepang tetap menggunakan angka Arab? Penggunaaan angka baru bukan mempermudah generasi muda melainkan mempersulit mereka. Saya pikir masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada hal semacam ini.

Inilah yang menjadi alasan saya mengapa melestarikan dan menyempurnakan aksara Lontara' dan bahasa Bugis begitu penting. Sekian!

Versi PDF dapat diunduh di sini.

Jika anda berminat mempelajari bahasa Bugis dengan cara mendengarkan langsung pengucapannya dari penutur aslinya disertai artinya, silakan kunjungi channel Gantolle Cella di Youtube, atau anda bisa langsung menonton beberapa videonya berikut ini.

⇛ 40 Pertanyaan yang Umum Digunakan dalam Bahasa Bahasa Bugis:


⇛ 25 Nama Binatang dan Artinya:


Demikian, semoga bermanfaat!

Senin, 06 Maret 2017

Belajar Membaca Aksara Lontara


Sudah pernah dengar tentang aksara Lontara?

Aksara Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat khususnya masyarakat Bugis, Luwu, Mandar, dan Makassar. Saat ini sering terjadi perdebatan mengenai siapa suku pertama yang menggunakan aksara ini. Apakah suku Bugis atau Makassar? Kita tidak akan membahas perdebatan tersebut dalam artikel ini. Fokus kita dalam artikel ini adalah bagaimana cara membaca aksara Lontara.

Aksara Lontara sangat terkenal di Eropa semenjak Sure' I La Galigo dibawa oleh B.F. Matthes dari Sulawesi Selatan ke Belanda. Apa itu Sure' I La Galigo?

Sure' I La Galigo merupakan sebuah epik yang berisi kepercayaan dan kebudayaan Bugis kuno, diperkirakan ditulis pada abad ke-13 sampai abad ke-15 Masehi. Tahukah anda bahwa Sure' I La Galigo merupakan epik terpanjang di dunia? Tahun 2011, UNESCO mengakui Sure' I La Galigo sebagai Memory of the World dan membuat Indonesia bangga. Informasi lebih lanjut mengenai Sure' I La Galigo dapat dilihat di sini.   

Aksara Lontara sangat berbeda dengan aksara Latin yang digunakan secara resmi di negara Indonesia yang tercinta ini. Perbedaannya bukan hanya dalam segi bentuk huruf melainkan juga dalam segi cara membacanya.

Aksara Lontara bersifat silabis, berbeda dengan aksara Latin yang bersifat fonetik. Apa yang dimaksud dengan silabis?

Sebuah aksara dikatakan bersifat silabis jika setiap huruf dalam aksara itu mengandung vokal inheren. Maksudnya, setiap huruf dalam aksara yang bersifat silabis mewakili satu suku kata. Contoh aksara di dunia yang bersifat silabis antara lain aksara Katakana dan Hiragana dari Jepang dan aksara Hangeul dari Korea.

1. Huruf-Huruf Dalam Aksara Lontara


Terdapat perbedaan jumlah huruf antara aksara Lontara versi Makassar dan aksara Lontara versi Bugis. Dalam aksara Lontara versi Makassar terdapat 19 huruf sedangkan dalam aksara Lontara versi Bugis terdapat 23 huruf. Gambar di bawah ini memperlihatkan huruf-huruf aksara Lontara versi Bugis.


Huruf-huruf aksara Lontara di atas dinamakan Îna' Sûre' atau biasa juga disebut dengan Indo' Sûre'. Huruf Ngka, Mpa, Nra dan Nca tidak didapati dalam aksara Lontara versi Makassar. Keempat huruf ini sepertinya diciptakan belakangan karena dalam Sure' I La Lagaligo tidak didapati keempat huruf ini termasuk huruf Ha.

Huruf Ha dalam aksara Lontara tercipta setelah masuknya agama Islam ke Sulawesi Selatan. Tidak ada kosakata asli bahasa Bugis dan Makassar kuno yang mengandung huruf Ha. Sebenarnya huruf Nca dalam gambar di atas dibaca /Ngca/ namun dalam proses transliterasi tertulis /Nca/.

2. Diakritik Dalam Aksara Lontara


Sebagaimana yang dapat dilihat dalam gambar di atas, setiap huruf dalam aksara Lontara sudah mengandung vokal /a/. Terus bagaimana cara menambahkan vokal /i/, /u/, /e/, dan /o/ pada huruf?

Untuk mengganti vokal /a/ yang sudah terkandung dalam setiap huruf maka digunakan tanda diakritik. Diakritik adalah tanda baca tambahan pada huruf yang akan mengubah cara pengucapan huruf tersebut.

Sekali lagi, terdapat perbedaan jumlah tanda diakritik antara aksara Lontara versi Makassar dan Lontara versi Bugis. Dalam aksara Lontara versi makassar terdapat 4 tanda diakritik sedangkan dalam aksara Lontara versi Bugis terdapat 5 tanda diakritik. Dalam tradisi Bugis, tanda diakritik dinamakan Ana' Sûre'. Gambar di bawah ini memperlihatkan tanda-tanda diakritik dalam aksara Lontara versi Bugis.


Tanda É pada gambar di atas dibaca seperti huruf E dalam kata ember, enak, merah, dan setan sedangkan tanda E dibaca seperti huruf E yang terdapat dalam kata telah, sepatu, terang, dan kerucut. Huruf É (terdapat tanda diakritik di bagian atas huruf) disebut dengan E taling sedangkan huruf E (tanpa tanda diakritik) disebut dengan E pepet.

Dahulu, tanda E pepet dan E taling pernah digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Namun, tanda diakritik dihilangkan sejak tahun 60-an karena ada anggapan bahwa orang Indonesia sudah tahu kapan huruf E dibaca seperti E taling dan kapan dibaca seperti E pepet.

Dalam bahasa Makassar tidak dikenal kata yang mengandung E pepet sehingga dalam aksara Lontara versi Makassar tidak terdapat tanda diakritik untuk bunyi vokal E pepet. Ya, seperti itulah penyebabnya.

Gambar di bawah ini memperlihatkan contoh penerapan tanda diakritik pada huruf-huruf Lontara.


3. Menulis Menggunakan Aksara Lontara


Aksara Lontara yang diwariskan oleh leluhur Bugis dan Makassar tidak mengenal tanda pemati huruf, glottal stop (penekanan di akhir suku kata), dan geminasi (penggandaan konsonan dalam penyebutan satu huruf).

Yang dimaksud dengan glottal stop adalah penghentian bunyi secara mendadak di akhir pengucapan suku kata seperti penyebutan Hamzah sukun dalam huruf Hijaiyyah. Yang dimaksud dengan geminasi adalah adanya dua konsonan sejenis yang berdekatan sehingga dalam membacanya seakan-akan hanya terdapat satu konsonan yang diucapkan dengan terlebih dahulu menekan tempat keluarnya huruf.

Dalam menulis teks menggunakan aksara Lontara, kita harus membedakan antara tanda titik yang merupakan bagian dari huruf dan  tanda titik yang merupakan tanda diakritik. Jika terdapat huruf Lontara yang memiliki titik di bagian atasnya dan penulis ingin menambahkan tanda diakritik untuk vokal /i/ maka hasilnya adalah huruf yang memiliki dua tanda titik di bagian atasnya. Perlu diperhatikan bahwa tanda titik yang merupakan bagian dari huruf terletak di tengah-tengah atas huruf sedangkan tanda titik diakritik terletak di bagian atas sebelah kiri (tidak persis di tengah). Contoh:


Kata di atas dibaca dâdi'.

Jika sebuah huruf Lontara memiliki tanda titik di bagian bawah dan penulis ingin menambahkan tanda diakritik untuk vokal /u/ maka hasilnya adalah huruf yang memiliki dua tanda titik di bagian bawah. Harap diperhatikan bahwa tanda titik di bawah huruf yang tepat di tengah merupakan bagian dari huruf sedangkan tanda titik di bawah huruf yang di bagian bawah sebelah kanan merupakan tanda diakritik. Contoh:


Kata di atas dibaca mânu'.

Lebih mudah menulis teks yang menggunakan aksara Lontara daripada membaca teks yang menggunakan aksara Lontara. Kenapa bisa? Karena dalam membaca teks yang menggunakan aksara Lontara, seorang pembaca harus memahami bahasa yang digunakan oleh teks tersebut (bahasa Makassar, Bugis, Taé, Mandar, Dûri, Torâja, atau bahasa-bahasa lain yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat) karena kalau tidak tidak maka kemungkinan besar ia akan salah dalam menyebut sebuah kata. Perhatikan teks Lontara di bawah ini:


Jika pembaca tidak memahami bahasa Bugis maka kemungkinan besar akan salah dalam membaca teks di atas, misalnya ia membacanya dengan:
  1. Bola lopo;
  2. Bola loppo;
  3. Bola lopong;
  4. Bola lopo';
  5. Bolang lopo;
  6. Bola' lopo;
Pembaca yang memahami bahasa Bugis akan tahu bawah teks di atas dibaca seperti pada nomor 2 yang artinya adalah rumah yang besar. Kenapa demikian? karena kata bolang, bola', lopo, dan lopong tidak dikenal dalam bahasa Bugis.

Berarti susah dong membaca teks yang menggunakan aksara Lontara? Ya, memang susah kalau kita tidak memahami bahasanya. Kalau kita paham bahasanya dan sering membaca teks yang menggunakan aksara Lontara maka yakin dan percaya, kita akan bisa membacanya selancar saat kita membaca teks yang menggunakan aksara Latin. Buktinya, para khatib di pedalaman Bone menggunakan buku kumpulan khutbah jumat yang menggunakan aksara Lontara dan mereka sangat lancar membacanya walaupun buku itu baru pertama kali dibacanya.

Dalam aksara Lontara terdapat tanda yang disebut pallâwa yaitu:


Secara umum, tanda pallâwa digunakan untuk menandakan adanya jeda dalam membaca sebuah teks. Tanda pallâwa memiliki fungsi yang sama dengan koma dan titik dalam aksara Latin. Contoh penggunaan tanda pallâwa:


Jika ada yang kurang jelas, silakan bertanya di kolom komentar.

Jika anda berminat mempelajari bahasa Bugis dengan cara mendengarkan langsung pengucapannya dari penutur aslinya disertai artinya, silakan kunjungi channel Gantolle Cella di Youtube, atau anda bisa langsung menonton beberapa videonya berikut ini.

⇛ 40 Pertanyaan yang Umum Digunakan dalam Bahasa Bahasa Bugis:


⇛ 25 Nama Binatang dan Artinya:


Demikian, semoga bermanfaat!

Jumat, 02 Desember 2016

Buku Panduan Belajar Tajwid dan Qira'at Riwayat Hafsh (Bahasa Bugis dan Aksara Lontara)

Sampul Buku Sarabaca

Beberapa waktu yang lalu, saya shalat di sebuah mesjid di salah satu daerah pedalaman Sul-Sel. Seorang imam memimpin shalat dengan bacaan yang berantakan. Setelah shalat, saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu orang tua yang tinggal di sekitar mesjid. Beliau menceritakan keadaan masyarakat di daerah itu.

Tidak ada ulama ataupun ustadz yang berdakwah di situ. Tidak ada juga buku-buku yang bisa mereka baca. Kalaupun ada, mereka hanya paham beberapa kata yang biasa didengar di Tv. Mereka tidak fasih berbahasa Indonesia.

Dari situ, saya termotivasi untuk menulis buku yang menggunakan bahasa mereka. Ya, sebuah buku, walaupun mungkin cuma beberapa orang dari mereka yang membacanya. Walau hanya satu orang, kalau itu bermanfaat bagi mereka, bukanlah masalah buatku.

Satu hal yang menarik di desa itu, mereka suka mengaji walau cara mereka malafalkan huruf-huruf Hijaiyyah mungkin terdengar aneh di telinga orang-orang Arab.

Ketika kembali ke Makassar, saya mulai menulis buku yang bercerita tentang tajwid, tentang seni membaca Al-Qur'an, tentang Qira'at yang diwariskan oleh sang Imam Penjaga Ayat Suci, Imam Hafsh rahimahullah.

Dan... jadilah buku ini. Buku yang anda lihat gambarnya di bagian atas halaman ini. Awalnya saya hanya menulis buku ini untuk mereka. Saya jilid lalu bawa ke salah satu mesjid di desa itu. Awalnya saya tidak pernah tertarik untuk meng-uploadnya di internet walau bukunya sudah selesai sejak bulan Juni. Tidak ada orang di internet yang mencari buku berbahasa Bugis, begitulah pikirku waktu itu.

Namun, saya berpikir kembali, bagaimana kalau ada? Walau cuma satu, yang penting ada. Dan, hari ini, saya mempostingnya.

Ini dia link-nya:

Selasa, 04 Oktober 2016

Buku Panduan Shalat (Menggunakan Bahasa Bugis)

Sampul buku Patettongenna Sumpajang Waji'e

Disebabkan oleh adanya permintaan dari keluarga di Bone supaya saya menulis buku tata cara shalat dalam bahasa Bugis maka hadirlah buku ini. Banyak orang di Bone yang tidak terbiasa dengan struktur bahasa baku yang digunakan dalam buku panduan shalat yang berbahasa Indonesia. Ditambah lagi dengan istilah-istilah fiqih yang digunakan dalam buku-buku tersebut. Hal seperti ini biasa terjadi pada orang-orang yang hanya menempuh pendidikan dasar di sekolah.

Buku ini terdiri atas tiga bab. Bab pertama membahas tata cara bersuci. Bab kedua membahas tata cara melaksanakan shalat. Bab terakhir membahas amalan setelah shalat. Pada bab pertama, saya tambahkan pembahasan mengenai wajibnya membasuh kemaluan setelah buang air kecil. Saat ini, banyak muslim yang menganggap bahwa membasuh kemaluan setelah buang air kecil hanya berlaku bagi muslimah saja. Masalah ini saya bahas secara ringkas.

Dalam penulisan, saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil referensi dari hadits-hadits shahih. Jika terdapat masalah yang tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al-Qur'an dan Sunnah maka saya mengutip pendapat para ulama yang dikenal ahli di bidangnya.

Supaya pembahasan tidak "kering" maka saya tambahkan penjelasan mengenai makna doa-doa yang diucapkan di dalam shalat. Hal ini untuk menambah penghayatan kita dalam melaksanakan ibadah shalat, khususnya shalat wajib.

Jika teman-teman memiliki keluarga atau kenalan (khusus orang Bugis tentunya) yang terkendala dengan bahasa Indonesia dalam mempelajari buku-buku panduan shalat maka silakan download bukunya dan bagikan kepadanya. Semoga hal ini dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua.

Buku ini telah selesai sejak bulan Juli 2016 dan telah dicetak di Bone, Sulawesi Selatan. Hanya saja baru sempat membagikannya di blog. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan buku ini ke depannya. Terima kasih!

Silakan unduh bukunya dengan mengunjungi tautan di bawah ini:

Senin, 26 September 2016

Bahasa Bugis : Dulu dan Sekarang

Bulan lalu saya KKN di Desa Ajubissue, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Salah satu hal yang saya sukai dari desa ini adalah banyaknya koleksi buku di perpustakaan desa. Bahkan saya menemukan sebuah buku yang berjudul "Sejarah Kerajaan Tanah Bone" yang ditulis oleh Andi Palloge. Buku yang tidak pernah saya temui di perpustakaan desaku di Bone, tanah kelahiranku. Saya segera meminjam buku ini dan membawanya ke posko. Sampul bukunya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.



Ada yang aneh ketika saya membaca kutipan-kutipan dari lontara yang terdapat di dalam buku ini. Ada beberapa kata yang tidak saya pahami dan tidak pernah saya dengar diucapkan oleh masyarakat Bugis di kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Padahal Lontara tersebut bercerita tentang sejarah Bone, ditulis oleh orang Bone dan saya sendiri sebagai pembaca adalah orang Bone yang lahir dan besar di Bone. Ini dia salah satu kutipan yang saya baca:
"Iyana kilaowang lao riko La Marupe', amaseang nakeng, aja'na muallajang. Mutudang ri tanamu na ikona puatakkeng. Elomu elo rikkeng. Na passuromuna kiyolai, kipogau', angikko kiraokkaju, tiakkommiring riakkeng mutappalireng. Ellauko kiabbere, olliko kisawe, attampako kilao. Namua ana'meng bainemmeng na pattarokkeng muteaiwi kiteai towisia. Narekko monromuno mai rini, naikona kipopuang."
Kutipan di atas merupakan pernyataan masyarakat Bone di masa lalu ketika meminta Baginda Mata Silompoe Manurungnge ri Matajang (Raja Bone Pertama) supaya berkenang manjadi Mangkau (Raja) di Bone. Saya harus membaca terjemahan yang ada di buku baru saya mengerti makna kutipan di atas. Adapun terjemahannya adalah sebagai berikut:
"Adapun kedatangan kami kepadamu, wahai La Marupe (Istilah untuk sesuatu yang ditakuti), adalah mendapat limpahan belas kasihan, jangalah engkau menghilang. Duduklah di tanah (kekuasaan)mu dan engkaulah tuan kami. Kehendakmu adalah kehendak kami. Perintahmu akan kami patuhi, kami laksanakan. Engkau adalah angin sedangkan kami hanya dedaunan. Engkau bertiup ke arah kami dan mengarahkan kami. Mintalah maka kami akan memberi, panggillah maka kami akan menyahut, undanglah kami maka kami akan datang. Walaupun yang engkau tidak sukai adalah istri-istri, anak-anak dan kesukaan kami maka kami pun tidak akan menyukainya. Jika engkau bersedia menetap di sini maka engkaulah yang kami pertuan."
Dalam masyarakat Bone saat ini sudah tidak dikenal kata ganti orang pertama jamak (kami) dengan struktur seperti yang terdapat dalam kutipan di atas. Namun, kutipan di atas berisi kata ganti orang pertama jamak dengan struktur yang aneh seperti:
  1. Bainemmeng (istri-istri kami)
  2. Puattakkeng (Tuan kami)
Dalam bahasa Bugis yang digunakan di Bone saat ini, kedua contoh di atas akan berubah menjadi:
  1. Pada baineku'
  2. Pada Puakku'
Kesimpulan saya dari kasus ini adalah:
  1. Tata bahasa Bugis yang digunakan  masyarakat Bone di zaman dahulu tidak sama dengan tata bahasa Bugis yang digunakan oleh masyarakat Bone di zaman sekarang.
  2. Banyak kata-kata dalam lontara yang sudah tidak digunakan saat ini. Contoh: kisawe (kami menyahut).
Kedua hal di atas akan menyebabkan orang-orang Bugis saat ini kewalahan dalam memahami isi lontara yang diwariskan oleh leluhur mereka walaupun mereka sangat lancar membaca huruf-huruf lontara. Bahkan ada orang yang beranggapan bahwa Lontara I La Galigo tidak menggunakan bahasa Bugis lantaran dia sebagai orang Bugis tidak memahami maknanya ketika membacanya.

Sekarang ini bahasa Bugis sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan di Negara Indonesia yang tercinta. Hal ini merupakan suatu hal yang alamiah dan telah terjadi pada banyak bahasa di dunia. Sekarang masyarakat Bugis di daerah Bone, ketika mengucapkan kata "menonton” dalam bahasa Bugis, mereka menggunakan kata manontong. Kata tersebut merupakan kata serapan dari Bahasa Indonesia yaitu "menonton”. Sebenarnya hal ini dapat dimaklumi jika dalam Bahasa Bugis tidak terdapat terjemahan dari kata menonton, tapi ternyata ada, hanya kita yang malas menggunakannya. Orang-orang dulu menggunakan kata makkita-ita untuk kata menonton, tapi sekarang kata tersebut tidak pernah terdengar terucapkan oleh orang-orang yang sedang berkomunikasi dalam Bahasa Bugis di daerah kelahiran saya, Kota Beradat Watampone.

Jika tidak ada daya upaya dalam melestarikan bahasa Bugis maka suatu saat semua kata dalam bahasa Bugis akan tergantikan oleh kata-kata serapan dari bahasa Indonesia. Salah satu cara untuk melestarikan bahasa Bugis adalah dengan membuat kamus Bahasa Bugis sehingnga kata yang sudah jarang digunakan dalam berkomunikasi dapat terselamatkan. Akan tetapi cara ini tidak sepenuhnya memberikan solusi terhadap semua masalah yang dihadapi.

Salah satu masalah yang di hadapi oleh bahasa Bugis sebagai bahasa daerah yang paling banyak penuturnya di Sulawesi Selatan adalah kurangnya minat generasi mudah untuk mendalami dan melestarikan bahasa Bugis. Bagi sebagian besar generasi mudah, bahasa Bugis hanya dipandang sebagai bahasa ibu. Mereka lupa bahwa bahasa Bugis adalah pusaka, kehormatan, identitas, filosofi, dan seni bagi masyarakat Bugis. Mereka lupa bahwa Sure I La Galigo sebagai puisi epik terpanjang di dunia tertulis dalam aksara Lontara dan bahasa Bugis.

Jika anda berminat mempelajari bahasa Bugis dengan cara mendengarkan langsung pengucapannya dari penutur aslinya disertai artinya, silakan kunjungi channel Gantolle Cella di Youtube, atau anda bisa langsung menonton beberapa videonya berikut ini.

⇛ 40 Pertanyaan yang Umum Digunakan dalam Bahasa Bahasa Bugis:


⇛ 25 Nama Binatang dan Artinya:


Demikian, semoga bermanfaat!

Sabtu, 12 Maret 2016

Kesopanan Dalam Bahasa Bugis


Kesopanan merupakan salah satu aspek yang penting dalam berkomunikasi. Setiap bahasa memiliki cara tersendiri untuk merefleksikan kesopanan tersebut. Terkadang ada orang Indonesia yang menganggap Bahasa Inggris sebagai bahasa orang-orang yang tidak memiliki kesopanan karena selalu menggunakan kata ganti "you" untuk orang kedua tanpa memperdulikan dengan siapa kita berbicara. Jika dilihat dari sudut pandang Bahasa Indonesia memang terlihat seperti itu. Namun jika kita melihat dari sudut pandang bahasa-bahasa lain di dunia maka hal itu bukanlah sebuah masalah. Bukankah bahasa Arab sebagai bahasa yang sangat kompleks selalu menggunakan kata "anta" sebagai kata ganti orang kedua walaupun kata digunakan ketika berkomunikasi dengan Tuhan (berdoa). Walaupun saat ini saya sering bertemu dengan "ikhwan" yang mengganti "anta" dengan "antum" dengan alasan kesopanan.

Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa yang sangat menjunjung tinggi kesopanan. Aspek kesopanan dalam Bahasa Bugis dapat dilihat dari penggunakaan kata ganti orang kedua tunggal. Bahasa Bugis menggunakan kata ganti orang pertama jamak (idi' = kita) untuk menggantikan kata ganti orang kedua tunggal (iko = kamu) ketika:
  1. Berbicara kepada orang yang dihormati (misal orang tua) atau orang yang dituakan.
  2. Berbicara kepada orang yang belum akrab dengan pembicara. Kecuali orang yang diajak berbicara adalah anak kecil.
  3. Berbicara kepada orang yang memiliki status sosial yang tinggi baik dalam hal jabatan atau keadaan ekonomi
Penggunaan kata "idi" dalam berbicara terkadang membingunkan bagi orang yang belum memahami filosofi Bahasa Bugis karena kata ini secara kebahasaan memiliki arti "kita". Namun sering digunakan untuk orang kedua tunggal sehingga artinya berubah menjadi "anda". Apakah kata "idi" berarti "kita" atau "anda", harus dilihat konteks pembicaraan dan/atau struktur kalimat.

Misalkan ada seseorang yang berkata:
Idi' urennuang
Kata "idi" dalam kalimat di atas memiliki arti "Engkau" sehingga kalimat di atas memiliki arti:
Engkaulah yang saya harapkan
Alasannya adalah terdapatnya awalan u- pada kata kedua. Awalan "u" pada kata dua (urennung) bermakna "saya". Ketika kita mengartikan kata "idi" menjadi "kita" pada kalimat di atas maka terjemahannya akan menjadi:
Kitalah yang saya harapkan
Susunan kata seperti di atas tidak lazim dalam Bahasa Bugis. 

Mungkin ada yang bertanya, "Bagaimana susunan katanya dalam Bahasa Bugis ketika kita hendak mengucapkan `kitalah yang diharapkan'?

Kalimatnya akan berbentuk seperti di bawah:
Idi narennuang towe
Penggunaan awalan na- pada kata kedua dan enambahan kata "towe" (arti: orang-orang) berfungsi untuk menegaskan bahwa kata "idi" bermakna "kita". Ketika awalan na- diganti dengan awalan di- dan tambahahan kata "towe" dihilangkan maka kalimatnya akan menjadi:
Idi dirennuang
Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan memiliki arti:
Engkaulah yang kami harapkan
Kalimat seperti ini sering ditujukan kepada orang yang memiliki status sosial yang tinggi.

Tulisan ini didasarkan pada pengalaman saya selama puluhan tahun hidup dalam lingkungan dan tradisi Bugis di Watampone Bumi Arung Palakka. Demikian, mohon dikoreksi jika ada yang salah dengan analisis saya.

Jika anda berminat mempelajari bahasa Bugis dengan cara mendengarkan langsung pengucapannya dari penutur aslinya disertai artinya, silakan kunjungi channel Gantolle Cella di Youtube, atau anda bisa langsung menonton beberapa videonya berikut ini.

⇛ 40 Pertanyaan yang Umum Digunakan dalam Bahasa Bahasa Bugis:


⇛ 25 Nama Binatang dan Artinya:


Demikian, semoga bermanfaat!

Di-update pada hari Selasa, 19 Maret 2019, 05:16.

Selasa, 02 Februari 2016

Belajar Bahasa Bugis

Untuk teman-teman yang berminat belajar bahasa Bugis, silakan download buku di bawah ini. Bukunya belum selesai sih karena saya sibuk akhir-akhir ini tapi daripada tinggal saja di laptop maka lebih lebih saya upload.

Ini dia linknya:
Bahasa-Bugis-Untuk-Pemula.pdf