Senin, 26 September 2016

Bahasa Bugis : Dulu dan Sekarang

Bulan lalu saya KKN di Desa Ajubissue, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Salah satu hal yang saya sukai dari desa ini adalah banyaknya koleksi buku di perpustakaan desa. Bahkan saya menemukan sebuah buku yang berjudul "Sejarah Kerajaan Tanah Bone" yang ditulis oleh Andi Palloge. Buku yang tidak pernah saya temui di perpustakaan desaku di Bone, tanah kelahiranku. Saya segera meminjam buku ini dan membawanya ke posko. Sampul bukunya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.



Ada yang aneh ketika saya membaca kutipan-kutipan dari lontara yang terdapat di dalam buku ini. Ada beberapa kata yang tidak saya pahami dan tidak pernah saya dengar diucapkan oleh masyarakat Bugis di kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Padahal Lontara tersebut bercerita tentang sejarah Bone, ditulis oleh orang Bone dan saya sendiri sebagai pembaca adalah orang Bone yang lahir dan besar di Bone. Ini dia salah satu kutipan yang saya baca:
"Iyana kilaowang lao riko La Marupe', amaseang nakeng, aja'na muallajang. Mutudang ri tanamu na ikona puatakkeng. Elomu elo rikkeng. Na passuromuna kiyolai, kipogau', angikko kiraokkaju, tiakkommiring riakkeng mutappalireng. Ellauko kiabbere, olliko kisawe, attampako kilao. Namua ana'meng bainemmeng na pattarokkeng muteaiwi kiteai towisia. Narekko monromuno mai rini, naikona kipopuang."
Kutipan di atas merupakan pernyataan masyarakat Bone di masa lalu ketika meminta Baginda Mata Silompoe Manurungnge ri Matajang (Raja Bone Pertama) supaya berkenang manjadi Mangkau (Raja) di Bone. Saya harus membaca terjemahan yang ada di buku baru saya mengerti makna kutipan di atas. Adapun terjemahannya adalah sebagai berikut:
"Adapun kedatangan kami kepadamu, wahai La Marupe (Istilah untuk sesuatu yang ditakuti), adalah mendapat limpahan belas kasihan, jangalah engkau menghilang. Duduklah di tanah (kekuasaan)mu dan engkaulah tuan kami. Kehendakmu adalah kehendak kami. Perintahmu akan kami patuhi, kami laksanakan. Engkau adalah angin sedangkan kami hanya dedaunan. Engkau bertiup ke arah kami dan mengarahkan kami. Mintalah maka kami akan memberi, panggillah maka kami akan menyahut, undanglah kami maka kami akan datang. Walaupun yang engkau tidak sukai adalah istri-istri, anak-anak dan kesukaan kami maka kami pun tidak akan menyukainya. Jika engkau bersedia menetap di sini maka engkaulah yang kami pertuan."
Dalam masyarakat Bone saat ini sudah tidak dikenal kata ganti orang pertama jamak (kami) dengan struktur seperti yang terdapat dalam kutipan di atas. Namun, kutipan di atas berisi kata ganti orang pertama jamak dengan struktur yang aneh seperti:
  1. Bainemmeng (istri-istri kami)
  2. Puattakkeng (Tuan kami)
Dalam bahasa Bugis yang digunakan di Bone saat ini, kedua contoh di atas akan berubah menjadi:
  1. Pada baineku'
  2. Pada Puakku'
Kesimpulan saya dari kasus ini adalah:
  1. Tata bahasa Bugis yang digunakan  masyarakat Bone di zaman dahulu tidak sama dengan tata bahasa Bugis yang digunakan oleh masyarakat Bone di zaman sekarang.
  2. Banyak kata-kata dalam lontara yang sudah tidak digunakan saat ini. Contoh: kisawe (kami menyahut).
Kedua hal di atas akan menyebabkan orang-orang Bugis saat ini kewalahan dalam memahami isi lontara yang diwariskan oleh leluhur mereka walaupun mereka sangat lancar membaca huruf-huruf lontara. Bahkan ada orang yang beranggapan bahwa Lontara I La Galigo tidak menggunakan bahasa Bugis lantaran dia sebagai orang Bugis tidak memahami maknanya ketika membacanya.

Sekarang ini bahasa Bugis sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan di Negara Indonesia yang tercinta. Hal ini merupakan suatu hal yang alamiah dan telah terjadi pada banyak bahasa di dunia. Sekarang masyarakat Bugis di daerah Bone, ketika mengucapkan kata "menonton” dalam bahasa Bugis, mereka menggunakan kata manontong. Kata tersebut merupakan kata serapan dari Bahasa Indonesia yaitu "menonton”. Sebenarnya hal ini dapat dimaklumi jika dalam Bahasa Bugis tidak terdapat terjemahan dari kata menonton, tapi ternyata ada, hanya kita yang malas menggunakannya. Orang-orang dulu menggunakan kata makkita-ita untuk kata menonton, tapi sekarang kata tersebut tidak pernah terdengar terucapkan oleh orang-orang yang sedang berkomunikasi dalam Bahasa Bugis di daerah kelahiran saya, Kota Beradat Watampone.

Jika tidak ada daya upaya dalam melestarikan bahasa Bugis maka suatu saat semua kata dalam bahasa Bugis akan tergantikan oleh kata-kata serapan dari bahasa Indonesia. Salah satu cara untuk melestarikan bahasa Bugis adalah dengan membuat kamus Bahasa Bugis sehingnga kata yang sudah jarang digunakan dalam berkomunikasi dapat terselamatkan. Akan tetapi cara ini tidak sepenuhnya memberikan solusi terhadap semua masalah yang dihadapi.

Salah satu masalah yang di hadapi oleh bahasa Bugis sebagai bahasa daerah yang paling banyak penuturnya di Sulawesi Selatan adalah kurangnya minat generasi mudah untuk mendalami dan melestarikan bahasa Bugis. Bagi sebagian besar generasi mudah, bahasa Bugis hanya dipandang sebagai bahasa ibu. Mereka lupa bahwa bahasa Bugis adalah pusaka, kehormatan, identitas, filosofi, dan seni bagi masyarakat Bugis. Mereka lupa bahwa Lontara I La Galigo sebagai puisi epik terpanjang di dunia tertulis dalam aksara Lontara dan bahasa Bugis.

Posting Komentar