Senin, 06 Maret 2017

Belajar Membaca Aksara Lontara


Sudah pernah dengar tentang aksara Lontara?

Aksara Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat khususnya masyarakat Bugis, Luwu, Mandar, dan Makassar. Saat ini sering terjadi perdebatan mengenai siapa suku pertama yang menggunakan aksara ini. Apakah suku Bugis atau Makassar? Kita tidak akan membahas perdebatan tersebut dalam artikel ini. Fokus kita dalam artikel ini adalah bagaimana cara membaca aksara Lontara.

Aksara Lontara sangat terkenal di Eropa semenjak Sure' I La Galigo dibawa oleh B.F. Matthes dari Sulawesi Selatan ke Belanda. Apa itu Sure' I La Galigo?

Sure' I La Galigo merupakan sebuah epik yang berisi kepercayaan dan kebudayaan Bugis kuno, diperkirakan ditulis pada abad ke-13 sampai abad ke-15 Masehi. Tahukah anda bahwa Sure' I La Galigo merupakan epik terpanjang di dunia? Tahun 2011, UNESCO mengakui Sure' I La Galigo sebagai Memory of the World dan membuat Indonesia bangga. Informasi lebih lanjut mengenai Sure' I La Galigo dapat dilihat di sini.   

Aksara Lontara sangat berbeda dengan aksara Latin yang digunakan secara resmi di negara Indonesia yang tercinta ini. Perbedaannya bukan hanya dalam segi bentuk huruf melainkan juga dalam segi cara membacanya.

Aksara Lontara bersifat silabis, berbeda dengan aksara Latin yang bersifat fonetik. Apa yang dimaksud dengan silabis?

Sebuah aksara dikatakan bersifat silabis jika setiap huruf dalam aksara itu mengandung vokal inheren. Maksudnya, setiap huruf dalam aksara yang bersifat silabis mewakili satu suku kata. Contoh aksara di dunia yang bersifat silabis antara lain aksara Katakana dan Hiragana dari Jepang dan aksara Hangeul dari Korea.

1. Huruf-Huruf Dalam Aksara Lontara


Terdapat perbedaan jumlah huruf antara aksara Lontara versi Makassar dan aksara Lontara versi Bugis. Dalam aksara Lontara versi Makassar terdapat 19 huruf sedangkan dalam aksara Lontara versi Bugis terdapat 23 huruf. Gambar di bawah ini memperlihatkan huruf-huruf aksara Lontara versi Bugis.


Huruf-huruf aksara Lontara di atas dinamakan Îna' Sûre' atau biasa juga disebut dengan Indo' Sûre'. Huruf Ngka, Mpa, Nra dan Nca tidak didapati dalam aksara Lontara versi Makassar. Keempat huruf ini sepertinya diciptakan belakangan karena dalam Sure' I La Lagaligo tidak didapati keempat huruf ini termasuk huruf Ha.

Huruf Ha dalam aksara Lontara tercipta setelah masuknya agama Islam ke Sulawesi Selatan. Tidak ada kosakata asli bahasa Bugis dan Makassar kuno yang mengandung huruf Ha. Sebenarnya huruf Nca dalam gambar di atas dibaca /Ngca/ namun dalam proses transliterasi tertulis /Nca/.

2. Diakritik Dalam Aksara Lontara


Sebagaimana yang dapat dilihat dalam gambar di atas, setiap huruf dalam aksara Lontara sudah mengandung vokal /a/. Terus bagaimana cara menambahkan vokal /i/, /u/, /e/, dan /o/ pada huruf?

Untuk mengganti vokal /a/ yang sudah terkandung dalam setiap huruf maka digunakan tanda diakritik. Diakritik adalah tanda baca tambahan pada huruf yang akan mengubah cara pengucapan huruf tersebut.

Sekali lagi, terdapat perbedaan jumlah tanda diakritik antara aksara Lontara versi Makassar dan Lontara versi Bugis. Dalam aksara Lontara versi makassar terdapat 4 tanda diakritik sedangkan dalam aksara Lontara versi Bugis terdapat 5 tanda diakritik. Dalam tradisi Bugis, tanda diakritik dinamakan Ana' Sûre'. Gambar di bawah ini memperlihatkan tanda-tanda diakritik dalam aksara Lontara versi Bugis.


Tanda É pada gambar di atas dibaca seperti huruf E dalam kata ember, enak, merah, dan setan sedangkan tanda E dibaca seperti huruf E yang terdapat dalam kata telah, sepatu, terang, dan kerucut. Huruf É (terdapat tanda diakritik di bagian atas huruf) disebut dengan E taling sedangkan huruf E (tanpa tanda diakritik) disebut dengan E pepet.

Dahulu, tanda E pepet dan E taling pernah digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Namun, tanda diakritik dihilangkan sejak tahun 60-an karena ada anggapan bahwa orang Indonesia sudah tahu kapan huruf E dibaca seperti E taling dan kapan dibaca seperti E pepet.

Dalam bahasa Makassar tidak dikenal kata yang mengandung E pepet sehingga dalam aksara Lontara versi Makassar tidak terdapat tanda diakritik untuk bunyi vokal E pepet. Ya, seperti itulah penyebabnya.

Gambar di bawah ini memperlihatkan contoh penerapan tanda diakritik pada huruf-huruf Lontara.


3. Menulis Menggunakan Aksara Lontara


Aksara Lontara yang diwariskan oleh leluhur Bugis dan Makassar tidak mengenal tanda pemati huruf, glottal stop (penekanan di akhir suku kata), dan geminasi (penggandaan konsonan dalam penyebutan satu huruf).

Yang dimaksud dengan glottal stop adalah penghentian bunyi secara mendadak di akhir pengucapan suku kata seperti penyebutan Hamzah sukun dalam huruf Hijaiyyah. Yang dimaksud dengan geminasi adalah adanya dua konsonan sejenis yang berdekatan sehingga dalam membacanya seakan-akan hanya terdapat satu konsonan yang diucapkan dengan terlebih dahulu menekan tempat keluarnya huruf.

Dalam menulis teks menggunakan aksara Lontara, kita harus membedakan antara tanda titik yang merupakan bagian dari huruf dan  tanda titik yang merupakan tanda diakritik. Jika terdapat huruf Lontara yang memiliki titik di bagian atasnya dan penulis ingin menambahkan tanda diakritik untuk vokal /i/ maka hasilnya adalah huruf yang memiliki dua tanda titik di bagian atasnya. Perlu diperhatikan bahwa tanda titik yang merupakan bagian dari huruf terletak di tengah-tengah atas huruf sedangkan tanda titik diakritik terletak di bagian atas sebelah kiri (tidak persis di tengah). Contoh:


Kata di atas dibaca dâdi'.

Jika sebuah huruf Lontara memiliki tanda titik di bagian bawah dan penulis ingin menambahkan tanda diakritik untuk vokal /u/ maka hasilnya adalah huruf yang memiliki dua tanda titik di bagian bawah. Harap diperhatikan bahwa tanda titik di bawah huruf yang tepat di tengah merupakan bagian dari huruf sedangkan tanda titik di bawah huruf yang di bagian bawah sebelah kanan merupakan tanda diakritik. Contoh:


Kata di atas dibaca mânu'.

Lebih mudah menulis teks yang menggunakan aksara Lontara daripada membaca teks yang menggunakan aksara Lontara. Kenapa bisa? Karena dalam membaca teks yang menggunakan aksara Lontara, seorang pembaca harus memahami bahasa yang digunakan oleh teks tersebut (bahasa Makassar, Bugis, Taé, Mandar, Dûri, Torâja, atau bahasa-bahasa lain yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat) karena kalau tidak tidak maka kemungkinan besar ia akan salah dalam menyebut sebuah kata. Perhatikan teks Lontara di bawah ini:


Jika pembaca tidak memahami bahasa Bugis maka kemungkinan besar akan salah dalam membaca teks di atas, misalnya ia membacanya dengan:
  1. Bola lopo;
  2. Bola loppo;
  3. Bola lopong;
  4. Bola lopo';
  5. Bolang lopo;
  6. Bola' lopo;
Pembaca yang memahami bahasa Bugis akan tahu bawah teks di atas dibaca seperti pada nomor 2 yang artinya adalah rumah yang besar. Kenapa demikian? karena kata bolang, bola', lopo, dan lopong tidak dikenal dalam bahasa Bugis.

Berarti susah dong membaca teks yang menggunakan aksara Lontara? Ya, memang susah kalau kita tidak memahami bahasanya. Kalau kita paham bahasanya dan sering membaca teks yang menggunakan aksara Lontara maka yakin dan percaya, kita akan bisa membacanya selancar saat kita membaca teks yang menggunakan aksara Latin. Buktinya, para khatib di pedalaman Bone menggunakan buku kumpulan khutbah jumat yang menggunakan aksara Lontara dan mereka sangat lancar membacanya walaupun buku itu baru pertama kali dibacanya.

Dalam aksara Lontara terdapat tanda yang disebut pallâwa yaitu:


Secara umum, tanda pallâwa digunakan untuk menandakan adanya jeda dalam membaca sebuah teks. Tanda pallâwa memiliki fungsi yang sama dengan koma dan titik dalam aksara Latin. Contoh penggunaan tanda pallâwa:


Demikian artikel kali ini. Jika ada yang kurang jelas, silakan bertanya di kolom komentar. Semoga bermanfaat!

Posting Komentar